Memilih lembaga pendidikan yang tepat untuk anak
Tips Memilih Sekolah (Dad Setyo Suhartanto)
Sebelum menentukan lokasi pendidikan anak, ada baiknya kita paham sedikit perkembangan anak.
Dalam tahap awal, perkembangan anak fokus ke 3 area yaitu:
1. Aspek Kognitif
Kemampuan berfikir, mengetahui dan memecahkan masalah.
Contoh konkrit: calistung, menghafal, menganalisa.
2. Aspek Afektif
Berhubungan dengan sikap dan nilai.
Contoh: karakter, behaviour, disiplin, motivasi, sopan-santun, kepekaan sosial, berpendapat bahwa suatu perbuatan adalah baik atau buruk.
3. Aspek Psikomotorik
Keterampilan (skill) dan kemampuan untuk bertindak berdasarkan pengetauan kognitif dan afektif yang dimiliki.
Contoh: membimbing, mengarahkan, menasehati teman²nya untuk berbuat baik, atau melarang perbuatan yang kurang baik.
Semua aspek tersebut penting untuk dikembangkan sejak dini (terutama 0-5 tahun).
Bacaan lebih lanjut silakan googling, salah satunya cukup lengkap ada disini:
http://cwan2.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-kognitifafektif-dan.html?m=1
Kembali ke pemilihan sekolah, harus dipahami apakah sekolah tersebut menanamkan nilai yang seimbang atas 3 aspek tersebut. Jika kurang lalu bagaimana solusinya?
Beberapa sekolah mengedepankan aspek kognitif diatas segalanya.
Cirinya pelajaran yang diberikan mayoritas terukur berbasis nilai (misal matematika) atau jumlah hafalan.
Apakah baik? Ya tentu.
Akan tetapi apakah setelah anak pintar matematika, lalu atas dasar empati mau mengajarkan ke temannya yang kurang paham? Belum tentu.
Diskusi Whatsapp Group - Komunitas Yuk Jadi Orang Tua Shalih 27 Februari – 4 Maret 2017
Apakah yang hafal Al-Quran lalu paham implementasinya dalam masyarakat? Tidak
menjamin
Sekolah lain fokus pada pengembangan afektif.
Biasanya dalam bentuk sekolah karakter, atau entrepreneurship.
Sekolah jenis ini tidak terpaku pada nilai dan angka.
Sekolah negeri, karena kurilulum mengacu ke Kemendikbud, sudah bisa terukur
umumnya fokus ke pendidikan kognitif.
Bagaimana dengan sekolah Islam Terpadu?
Mereka beragam, ada beberapa yang fokus ke kognitif (misal: Nuruf Fikri) ada yang
afektif (misal: Lentera Insan, Insan Mandiri).
Saat ini sekolah IT tergabung dalam JSIT untuk melakukan standarisasi kurikulum agar
tidak terlalu jauh berbeda satu sama lain.
Bisa dan boleh (ini hak ortu) ditanyakan ke calon sekolah IT anak, apakah mereka
tergabung JSIT atau tidak.
Ada lagi group sekolah Islam yang fokus pada hafalan siswa, mondok, cadar, hijab
antara laki² dan perempuan sejak kecil, dan ciri khas lainnya.
Sekolah negeri, karena kurilulum mengacu ke Kemendikbud, sudah bisa terukur
umumnya fokus ke pendidikan kognitif.
Sudah selesai? Belum.
Bagaimana dengan si anak sendiri?
Mengacu ke konsep Multiple Intelligence, maka pilihlah sekolah yang mampu
mengembangkan potensi anak secara maksimal.
Gaya belajar anak pun harus disesuaikan. Model klasikal atau sentra. Visual atau
audio. Otak kanan atau kiri.
Sebelum menentukan lokasi pendidikan anak, ada baiknya kita paham sedikit perkembangan anak.
Dalam tahap awal, perkembangan anak fokus ke 3 area yaitu:
1. Aspek Kognitif
Kemampuan berfikir, mengetahui dan memecahkan masalah.
Contoh konkrit: calistung, menghafal, menganalisa.
2. Aspek Afektif
Berhubungan dengan sikap dan nilai.
Contoh: karakter, behaviour, disiplin, motivasi, sopan-santun, kepekaan sosial, berpendapat bahwa suatu perbuatan adalah baik atau buruk.
3. Aspek Psikomotorik
Keterampilan (skill) dan kemampuan untuk bertindak berdasarkan pengetauan kognitif dan afektif yang dimiliki.
Contoh: membimbing, mengarahkan, menasehati teman²nya untuk berbuat baik, atau melarang perbuatan yang kurang baik.
Semua aspek tersebut penting untuk dikembangkan sejak dini (terutama 0-5 tahun).
Bacaan lebih lanjut silakan googling, salah satunya cukup lengkap ada disini:
http://cwan2.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-kognitifafektif-dan.html?m=1
Kembali ke pemilihan sekolah, harus dipahami apakah sekolah tersebut menanamkan nilai yang seimbang atas 3 aspek tersebut. Jika kurang lalu bagaimana solusinya?
Beberapa sekolah mengedepankan aspek kognitif diatas segalanya.
Cirinya pelajaran yang diberikan mayoritas terukur berbasis nilai (misal matematika) atau jumlah hafalan.
Apakah baik? Ya tentu.
Akan tetapi apakah setelah anak pintar matematika, lalu atas dasar empati mau mengajarkan ke temannya yang kurang paham? Belum tentu.
Diskusi Whatsapp Group - Komunitas Yuk Jadi Orang Tua Shalih 27 Februari – 4 Maret 2017
Apakah yang hafal Al-Quran lalu paham implementasinya dalam masyarakat? Tidak
menjamin
Sekolah lain fokus pada pengembangan afektif.
Biasanya dalam bentuk sekolah karakter, atau entrepreneurship.
Sekolah jenis ini tidak terpaku pada nilai dan angka.
Sekolah negeri, karena kurilulum mengacu ke Kemendikbud, sudah bisa terukur
umumnya fokus ke pendidikan kognitif.
Bagaimana dengan sekolah Islam Terpadu?
Mereka beragam, ada beberapa yang fokus ke kognitif (misal: Nuruf Fikri) ada yang
afektif (misal: Lentera Insan, Insan Mandiri).
Saat ini sekolah IT tergabung dalam JSIT untuk melakukan standarisasi kurikulum agar
tidak terlalu jauh berbeda satu sama lain.
Bisa dan boleh (ini hak ortu) ditanyakan ke calon sekolah IT anak, apakah mereka
tergabung JSIT atau tidak.
Ada lagi group sekolah Islam yang fokus pada hafalan siswa, mondok, cadar, hijab
antara laki² dan perempuan sejak kecil, dan ciri khas lainnya.
Sekolah negeri, karena kurilulum mengacu ke Kemendikbud, sudah bisa terukur
umumnya fokus ke pendidikan kognitif.
Sudah selesai? Belum.
Bagaimana dengan si anak sendiri?
Mengacu ke konsep Multiple Intelligence, maka pilihlah sekolah yang mampu
mengembangkan potensi anak secara maksimal.
Gaya belajar anak pun harus disesuaikan. Model klasikal atau sentra. Visual atau
audio. Otak kanan atau kiri.
Komentar
Posting Komentar